Ketika Konspirasi Mesin Mengkudeta Otoritas Manusia

Ketika kita mendengar kata teori konspirasi, mungkin pertama yang akan kita ingat adalah teoriter terdahulu tentang Bumi itu datar yang dideklarasikan oleh organisasi Flat Earth Society yang kemudian tidak mengejutkan para ahli.

Karen Douglas, seorang psikolog di University of Kent di Inggris yang mempelajari psikologi teori konspirasi ini mengatakan bahwa keyakinan para anggota Flat Earth Society sama dengan orang-orang pencipta teori konspirasi lain yang telah ia pelajari.

Ia mengatakan, semua teori konspirasi memiliki dorongan dasar yang sama, mereka menyajikan sebuah teori alternatif tentang isu atau peristiwa penting, dan membangun penjelasan (sering kali) samar-samar tentang alasan seseorang menutupi kejadian yang sesungguhnya.

“Salah satu poin utama dari bantahan itu adalah bahwa mereka menjelaskan kejadian besar tetapi sering tanpa memberikan penjelasan lengkap,” ujarnya.

“Banyak kekuatan terletak pada kenyataan bahwa mereka samar-samar,” ia menambahkan.

Rasa percaya diri ahli teori konspirasi untuk tetap berpegang pada teori mereka membuat kisah tersebut semakin menarik. Lagipula, para anggota Flat Earth Society lebih bersikukuh bahwa Bumi ini datar daripada kebanyakan orang yang mengatakan bahwa Bumi itu bulat, hal itu mungkin karena sebagian dari kita merasa kita tidak punya apa-apa untuk membuktikannya.

“Jika Anda dihadapkan dengan sudut pandang minoritas yang diungkapkan dalam cara yang cerdas, diinformasikan dengan baik, dan ketika para pendukung organisasi itu tidak menyimpang dari pendapat kuat yang mereka miliki, mereka bisa sangat berpengaruh. Kami menyebutnya pengaruh kaum minoritas,” kata Douglas.

Dalam era digital saat ini, konspirasi-konspirasi sengit tidak hanya terjadi di alam nyata, konspirasi di dunia maya jauh lebih punya variasi dan power dalam proses manipulasinya.

Echelon Conspiracy

Jika kita menonton satu film yang berjudul Echelon Conspiracy, mungkin saat ini masih membayangkan bahwa film itu terlalu berlebihan dan menghayal.

Dimana dikisahkan tentang sistem komputer raksasa dengan kecerdasan buatan tingkat tinggi sehingga mampu memanipulasi, memprediksi, membuat visi-misi auto generate serta bahkan mampu mengobrak-abrik segala sistem elektronik dan perangkat-perangkat umum yang sudah tertata rapi di seluruh dunia.

Jika kita bisa memetik falsafah umum dalam film Eschelon Conspiracy, perang kekuasaan dan kedaulatan negara saat ini sudah tidak lagi melulu dimunculkan dengan saling tembak menggunakan meriam dan tank.

Perang yang lebih sengit justru terjadi dalam kekuasaan sistem keamanan negara yang ada di dunia maya, pusat-pusat kendali perangkat teknologi negara, serta mungkin akses penyadapan terhadap perangkat otomatis yang sudah berjalan rapi dalam suatau negara.

Rusia yang memiliki Federal Security Service merasa khawatir dan keberatan atas kesewenang-wenangan dan hegemoni Agen Kemanan Negara (NSA) Amerika Serikat yang sudah menguasai secara diam-diam dan menyadap data rahasia berbagai negara di dunia yang seharusnya menjadi wewenang oritas sebagai negara yang merdeka dan punya hak atas segala sistem kendali di wilayahnya sendiri.

Dalam dunia riset teknologi belakangan ini, kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) merupakan salah satu bidang ilmu yang paling banyak diteliti dan dikembangkan, mulai jadi jaringan syaraf tiruan (neural network), pembelajaran mesin (mechine learning), dan sejenisnya sampai dengan kolaborasi metode-metode tersebut terhadap operasi sistem elektronik lainnya.

Pada perkembangannya algoritma-algoritma ini sedikit demi sedikit akan banyak menggantikan peran-peran vital yang lumrahnya dikontrol manusia.

Mesin akan mampu belajar dengan sendirinya dan beradaptasi terhadap lingkungan-lingkungan baru yang terjadi disekitarnya, yang pada akhirnya akan mampu membuat keputusan otomatis berdasarkan pertimbangan yang sudah matang.

Jaringan komputer yang dipadu dengan kecerdasan buatan mesin merupakan kolaborasi besar yang bisa jadi ke depan akan menjadi ajudan maya yang punya otoritas absolut dan jubir resmi suatu negara dalam negosiasi kekuasaan data, sistem kekuatan senjata, sebagai negosiator keamanan dan rahasia negara, atau bahkan sebagai penasehat keamanan suatu negara dalam menerapkan kebijakan-kebijakan hubungan internasionalnya.

Sudah Siapkah Indonesia?

Akhirnya, ini menjadi tantangan penting negara kita untuk terus meningkatkan bargaining position tidak hanya di dunia nyata seperti halnya penguatan militer, hubungan ekonomi bilateral, dan sejenisnya.

Namun perang kekuasaan dunia maya saat ini dan ke depan jauh akan lebih sengit, melihat ketergantungan manusia terhadap dunia jaringan komputer semakin hari semakin tak terpisahkan.

Mulai hal simpel seperti beralihnya kebanyakan orang dari cara jual beli konvensional ke jual beli online, kapitalisasi dunia maya, dan seterusnya.

Tanpa tameng yang kuat, bisa jadi negara kita akan menjadi boneka atau mengkin bulan-bulanan atas konspirasi negara-negara kuat yang punya ajudan mesin cerdas dan sejenisnya.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s